Hijrah Hakiki: Menata Spiritual, Mengakselerasi Keadilan Ekonomi Syariah di Tahun 1448 H
Oleh: Admin
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillahirabbil ’alamiin, wa bihi nasta’iinu ’alaa umuoriddunya waddiin. Wash-shalatu was-shalamu ’alaa asyrafail anbiyaa-i wal mursaliin, sayyidinaa muhammadin, wa ’alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin. Amma ba’du. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memperkenankan kita menginjakkan kaki di gerbang Tahun Baru Hijriah, 1 Muharram 1448 H, yang bertepatan dengan 16 Juni 2026.
Momen pergantian tahun Islam bukan sekadar rutinitas kalender atau perayaan seremonial. Bagi kita, umat Muslim, khususnya di Indonesia, Muharram adalah sebuah cermin besar untuk melakukan muhasabah (refleksi diri) secara holistik. Hijrahnya Rasulullah Saw. dari Makkah ke Madinah ribuan tahun lalu adalah cetak biru (blueprint) transformasi total—bukan hanya perpindahan fisik dan penguatan spiritual, melainkan juga transformasi tatanan sosial, hukum, hingga sistem ekonomi yang berkeadilan.
Jika kita merefleksikan makna hijrah dalam konteks kekinian, ada korelasi yang sangat kuat antara kebangkitan spiritualitas umat dengan geliat Ekonomi Syariah Indonesia.
1. Makna Hijrah: Dari Kesholehan Ritual Menuju Kesholehan Sosial-Ekonomi
Dalam sejarah Islam, setibanya di Madinah, salah satu langkah strategis pertama yang dilakukan Rasulullah Saw. setelah membangun Masjid Nabawi dan mempersaudarakan Kaum Muhajirin dan Ansar adalah mendirikan Pasar Madinah. Rasulullah Saw. ingin memutus ketergantungan umat dari sistem ekonomi ribawi dan monopoli yang tidak adil.
Inilah esensi hijrah ekonomi. Kita dituntut untuk bermigrasi dari sistem ekonomi yang serakah, eksploitatif, dan penuh ketidakpastian (gharar), menuju sistem ekonomi yang berlandaskan keadilan, kejujuran, dan kemaslahatan bersama (rahmatan lil ‘alamin).
Alhamdulillah, refleksi spiritual ini kian mewujud nyata dalam aksi ekonomi umat di Indonesia. Di tahun 2026 ini, kita melihat pertumbuhan aset keuangan syariah nasional yang diproyeksikan menembus Rp3.508 triliun. Angka ini adalah representasi dari meningkatnya kepercayaan dan kesadaran umat untuk berhijrah ke lembaga keuangan yang sesuai dengan syariat-Nya.
2. ZIS-DSKL dan Wakaf Produktif: Instrumen Pembebasan Kemiskinan
Hijrah adalah tentang kepedulian. Momentum Muharram mengingatkan kita pada kaum Muhajirin yang datang ke Madinah tanpa membawa harta, lalu didekap dengan penuh cinta oleh kaum Ansar melalui semangat saling berbagi.
Di era modern, semangat Ansar ini termanifestasi dalam pilar Keuangan Sosial Islam (Zakat, Infak, Sedekah, dan Dana Sosial Keagamaan Lainnya atau ZIS-DSKL).
Secara fikih dan substansi ekonomi, dana sosial ini bukan sekadar instrumen karitatif, melainkan social safety net (jaring pengaman sosial) yang efektif untuk mengangkat harkat martabat masyarakat rentan. Tugas kita ke depan di tahun 1448 H ini adalah meningkatakan pengelolaan zakat dan wakaf agar lebih produktif, sehingga mampu melahirkan mustahik (penerima zakat) yang mandiri dan bertransformasi menjadi muzakki (pemberi zakat) di masa depan.
3. Akselerasi Digital: Dakwah Ekonomi di Era Baru
Tahun 1448 H / 2026 M ini juga menjadi fase akselerasi teknologi syariah melalui integrasi AI (Artificial Intelligence) dan open banking. Hijrah berarti kita tidak boleh gagap teknologi. Kita harus merebut ruang digital ini untuk mempermudah akses modal bagi UMKM, memperluas literasi keuangan syariah, serta mendigitalisasikan ekosistem Koperasi Syariah, Pesantren dan Masjid.
Kesimpulan & Harapan di Tahun 1448 H
Mengakhiri refleksi Muharram ini, mari kita camkan firman Allah Swt. dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (masa depan)…”
Ekonomi Syariah bukan sekadar angka-angka pertumbuhan statistik, melainkan tentang bagaimana kita menegakkan keadilan ekonomi di bumi pertiwi. Mari jadikan Tahun Baru Hijriah 1448 H sebagai momentum untuk memperkuat niat, membersihkan transaksi kita dari yang haram dan syubhat, serta bahu-membahu membangun ekosistem ekonomi Islam yang inklusif, tangguh, dan membawa maslahat bagi seluruh alam.
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H. Semoga Allah Swt. senantiasa melimpahkan taufik, hidayah, dan keberkahan ekonomi bagi bangsa Indonesia.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

