Menyikapi hiruk pikuk hajatan nasional, pemilihan legislatif atau biasa disebut pemilu, sering kita mendengar baik pada pemilu-pemilu sebelumnya maupun menjelang pemilu kali ini, yaitu politikus (mungkin tidak semuanya) sering dikatakan sebagai manusia culas. Culas, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat berarti (1)malas sekali; tidak tangkas; lamban atau (2) curang; tidak jujur; tidak lurus hati: ke·cu·las·an n kecurangan; ketidakjujuran; kepalsuan. Selanjutnya dalam tulisan ini makna culas yang kedua yang relevan dengan maksud dan tujuan tulisan ini. Culas atau curang adalah kata sifat atas suatu perbuatan yang selalu atau tidak selalu melekat selalu pada penyandangnya. Artinya terkadang penyandangnya tersifati culas ini sekali dua kali sehingga tidak menyebabkan mendapat predikat culas di khalayak dengan kata lain ada yang sifat dasarnya culas ada pula yang memiliki potensi culas dan potensi culas pasti dimiliki setiap orang. Namun pastinya culas atau curang ini merupakan suatu kesadaran berbuat atau memang merasakan sifat ini ketika dalam perbuatannya. Dalam organisasi seringkali terjangkiti sifat ini walaupun sesaat-sesaat namun ada momen-momen dimana sifat ini timbul tenggelam. Timbul ketika ada magnet penariknya dan tenggelam ketika ada penawar dan penolaknya.
Dalam organisasi tradisional maupun modern, culas timbul hampir selalu karena daya tarik materi atau uang. Oleh karenanya fitnah karena harta memang mendominasi tribulasi suatu komunitas ataupun organisasi.
Culas memiliki efek candu artinya membuat pelakunya ketagihan, hingga sabahat Rasulullah SAW, Qais bin Saad bin Ubadah pernah berkata ,” Aku adalah orang yang paling culas pada masa jahiliyahku seandainya Islam tidak melarang keculasan tentulah aku yang paling culas saat ini.”
Bagaimana dalam dinamika organisasi ini yang merupakan milik semua anggota dan semua anggota adalah mereka yang faham mengenai syariah? Sulit memang menjawabnya, namun pastinya sifat culas ini harus diminimalisir dari dinamika organisasi, dan pastinya kemungkinan culas ini ada dalam dinamika organisasi ini namun berpulang kepada para pemilik organisasi ini apakah sudah memberikan kontribusinya dalam kemajuan organisasi ini? Jelas jawaban ada ditangan para pembaca.
